jurnal
Senin, 04 Maret 2013
thalasemia
ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM HEMATOLOGI
DENGAN
KASUS TALASEMIA
D
I
S
U
S
U
N
|
O l e h
KELOMPOK 6t
Ida Bagus B P
Hasnia
Dian angraeni
Ni ayu putu shinta
Siti nurjanah
AKADEMI KEPERAWATAN
PEMDA DONGGALA
TAHUN 2011/2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan limpahan rahmat, kasih
kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul ‘chusing syndrom’’ dengan tepat waktu. penulis juga mngucapkan
banyak terimah kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan banyak
masukan dan saran sehinnga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan
tepat waktu.
Penulis juga menyadari bahwa dalam
pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan karna setiap manusia tak
pernah luput dari kesalahan, sehinnga penulis mengharapkan kritikan dan saran
yang membangun dari pembaca sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat
penulis selesaikan dengan sempurna.
PENULIS
PALU 25 MEI 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Thalasemia berasal dari kata Yunani, yaitu talassa yang berarti laut.
Yang dimaksud dengan laut tersebut ialah Laut Tengah, oleh karena penyakit ini
pertama kali dikenal di daerah sekitar Laut Tengah. Penyakit ini pertama sekali
ditemukan oleh seorang dokter di Detroit USA yang bernama Thomas B. Cooley pada
tahun 1925. Beliau menjumpai anak-anak yang menderita anemia dengan pembesaran
limpa setelah berusia satu tahun. Selanjutnya, anemia ini dinamakan anemia splenic
atau eritroblastosis atau anemia mediteranean atau anemia Cooley
sesuai dengan nama penemunya.
B.
RUMUSAN MASALAH
-
Apa pengertian dari thalasemia?
- Apa penyebab dan bagaimana proses terjadinya tanda dan gejala klinis pada
penderita thalasemia?
- Apakah penyebab utama pada manifestasi klinis penderita thalasemia tersebut
disebabkan oleh adanya kelainan dalam produksi hemoglobin?
- Bagaimana pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium pada penderita
thalasemia?
- Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan pada penderita thalasemia?
C.
TUJUAN PENULISAN
-
Dapat mengetahui patofisiologi tanda dan gejala klinis thalasemia.
-
Dapat menetapkan penyebab utama manifestasi klinis thalasemia yang
disebabkan oleh adanya kelainan produksi hemoglobin.
-
Mampu melakukan penetapan diagnosis atau diagnosis banding pada penderita
thalasemia.
-
Mampu memberikan terapi atau penatalaksanaan dan pencegahan pada penderita
thalasemia.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. PENGERTIAN
·
Thalasemia merupakan penyakit anemia hemolitik
dimana terjadi kerusakan sel darah merah didalam pembuluh darah sehingga umur
eritrosit menjadi pendek ( kurang dari 100 hari ).
·
Thalasemia merupakan penyakit anemua hemolitik
herediter yang diturunkan secara resesif, secara molekuler dibedakan menjadi
thalasemia alfa dan beta, sedangkan secara klinis dibedakan menjadi thalasemia
mayor dan minor.
·
Talasemia merupakan suatu penyakit darah yang
ditandai dengan berkurang atau ketiadaan produksi dari hemoglobin normal.
Talasemia biasanya terjadi di daerah-daerah dimana terjadi endemik malaria,
khususnya malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum.
B.
KLASIFIKASI
Berdasarkan gangguan pada rantai globin
yang terbentuk, talasemia dibagi menjadi :
1. Talasemia alpha
Talasemia alpha disebabkan karena adanya mutasi dari salah satu atau seluruh globin rantai alpha yang ada. Talasemia alpha dibagi menjadi :
Talasemia alpha disebabkan karena adanya mutasi dari salah satu atau seluruh globin rantai alpha yang ada. Talasemia alpha dibagi menjadi :
·
Silent
Carrier State
(gangguan pada 1 rantai globin alpha).Pada keadaan ini mungkin tidak timbul
gejala sama sekali pada penderita, atau hanya terjadi sedikit kelainan berupa
sel darah merah yang tampak lebih pucat (hipokrom).
·
Alpha
Thalassaemia Trait
(gangguan pada 2 rantai globin alpha). Penderita mungkin hanya mengalami anemia
kronis yang ringan dengan sel darah merah yang tampak pucat (hipokrom) dan
lebih kecil dari normal (mikrositer).
·
Hb
H Disease (gangguan pada 3 rantai globin alpha). Gambaran klinis
penderita dapat bervariasi dari tidak ada gejala sama sekali, hingga anemia
yang berat yang disertai dengan perbesaran limpa (splenomegali).
·
Alpha
Thalassaemia Major
(gangguan pada 4 rantai globin aplha). Talasemia tipe ini merupakan kondisi
yang paling berbahaya pada talasemia tipe alpha. Pada kondisi ini tidak
ada rantai globin yang dibentuk sehingga tidak ada HbA atau HbF yang
diproduksi. Biasanya fetus yang menderita alpha talasemia mayor
mengalami anemia pada awal kehamilan, membengkak karena kelebihan cairan (hydrops
fetalis), perbesaran hati dan limpa. Fetus yang menderita kelainan ini
biasanya mengalami keguguran atau meninggal tidak lama setelah dilahirkan.
2. Talasemia Beta
Talasemia
beta terjadi jika terdapat mutasi pada satu atau dua rantai globin yang
ada. Talasemia beta dibagi menjadi :
·
Beta
Thalassaemia Trait.
Pada jenis ini penderita memiliki satu gen normal dan satu gen yang bermutasi.
Penderita mungkin mengalami anemia ringan yang ditandai dengan sel darah merah
yang mengecil (mikrositer).
·
Thalassaemia
Intermedia.Pada
kondisi ini kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa memproduksi sedikit
rantai beta globin. Penderita biasanya mengalami anemia yang derajatnya
tergantung dari derajat mutasi gen yang terjadi.
·
Thalassaemia
Major
(Cooley’s Anemia).Pada kondisi ini kedua gen mengalami mutasi sehingga
tidak dapat memproduksi rantai beta globin. Biasanya gejala muncul pada
bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang berat.
C. ETIOLOGI
Faktor genetik yaitu
perkawinan antara 2 heterozigot (carier) yang menghasilkan keturunan Thalasemia
(homozigot).
D. MANIFESTASI
KLINIS
1. Pucat
2. Kelelahan
3. Lemas
4. Nafas
pendek
5. Kulit
berwarna kekuningan (jaundice) atau
berwarna keabu-abuan
6. Deformitas
tulang wajah
7. Pertumbuhan
lambat
8. Perut
membusung (akibat pembesaran hati dan limpa)
E. Patofisiologi
Hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, mengandung zat besi (Fe).
Kerusakan sel darah merah pada penderita thalasemia mengakibatkan zat besi akan
tertinggal di dalam tubuh. Pada manusia normal, zat besi yang tertinggal dalam
tubuh digunakan untuk membentuk sel darah merah baru.
Pada penderita thalasemia, zat besi yang ditinggalkan sel darah merah yang
rusak itu menumpuk dalam organ tubuh seperti jantung dan hati (lever). Jumlah
zat besi yang menumpuk dalam tubuh atau iron overload ini akan mengganggu
fungsi organ tubuh.Penumpukan zat besi terjadi karena penderita thalasemia
memperoleh suplai darah merah dari transfusi darah. Penumpukan zat besi ini, bila
tidak dikeluarkan, akan sangat membahayakan karena dapat merusak jantung, hati,
dan organ tubuh lainnya, yang pada akhirnya bisa berujung pada kematian.
F. PATOFISIOLOGI
Hemoglobin post natal (Hb A)
Rantai alfa rantai
beta
Thalasemia
beta Difesiensi
rantai beta
Hyperplasia
hemopoiesis
Defisiensi sintesa rantai beta
Sumsum tulang eritropoiesis extramedular
Sintesa rantai alfa
perubahan skeletal
SDM rusak splenomegali Kerusakan pembentukan Hb
limfadenopati
Anemia
hemolisis Hemolisis
hemokromatosis
& pertumbuhan trggangu fibrosis
kulit kecoklatan Pembentukan eritrosit oleh sumsum
tulang
Fe Meningkat
Hemosiderosis
Jantung liver kandung empedu pangkreas limpa
Gagal sirosis kolelitiasis diabetes splenomegali
Jantung
G. PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
a. Pemeriksaan
laboratorium
Pada hapusan darah topi di dapatkan
gambaran hipokrom mikrositik, anisositosis, polklilositosis dan adanya sel
target (fragmentasi dan banyak sel normoblas).Kadar besi dalam serum (SI)
meninggi dan daya ikat serum terhadap besi (IBC) menjadi rendah dan dapat
mencapai nol. Elektroforesis hemoglobin memperlihatkan tingginya HbF lebih dari
30%, kadang ditemukan juga hemoglobin patologik.Di Indonesia kira-kira 45%
pasien Thalasemia juga mempunyai HbE maupun HbS.
Kadar bilirubin dalam serum meningkat,
SGOT dan SGPT dapat meningkat karena kerusakan parankim hati oleh
hemosiderosis.Penyelidikan sintesis alfa/beta terhadap refikulosit sirkulasi
memperlihatkan peningkatan nyata ratio alfa/beta yakni berkurangnya atau tidak
adanya sintetis rantai beta.
b. Pemeriksaan
radiologis
Gambaran radiologis tulang akan
memperlihatkan medula yang labor, korteks tipis dan trabekula kasar. Tulang
tengkorak memperlihatkan “hair-on-end” yang disebabkan perluasan sumsum tulang
ke dalam tulang korteks.
H. PENCEGAHAN
a. Pencegahan
primer :
Penyuluhan sebelum perkawinan (marriage counselling) untuk
mencegah perkawinan diantara pasien Thalasemia agar tidak mendapatkan keturunan
yang homozigot. Perkawinan antara 2 hetarozigot (carrier) menghasilkan
keturunan : 25 % Thalasemia (homozigot), 50 % carrier (heterozigot) dan 25
normal.
b. Pencegahan
sekunder
Pencegahan
kelahiran bagi homozigot dari pasangan suami istri dengan Thalasemia
heterozigot salah satu jalan keluar adalah inseminasi buatan dengan sperma
berasal dari donor yang bebas dan Thalasemia troit. Kelahiran kasus homozigot
terhindari, tetapi 50 % dari anak yang lahir adalah carrier, sedangkan 50%
lainnya normal. Diagnosis prenatal melalui pemeriksaan DNA cairan amnion
merupakan suatu kemajuan dan digunakan untuk mendiagnosis kasus homozigot
intra-uterin sehingga dapat dipertimbangkan tindakan abortus provokotus.
I. PENATALAKSANAAN
a. Transfusi
darah berupa sel darah merah (SDM) sampai kadar Hb 11 g/dl. Jumlah SDM yang
diberikan sebaiknya 10 – 20 ml/kg BB.
b. Asam
folat teratur (misalnya 5 mg perhari), jika diit buruk
c. Pemberian
cheleting agents (desferal) secara teratur membentuk mengurangi hemosiderosis.
Obat diberikan secara intravena atau subkutan, dengan bantuan pompa kecil, 2 g
dengan setiap unit darah transfusi.
d. Vitamin
C, 200 mg setiap, meningkatan ekskresi besi dihasilkan oleh Desferioksamin.
e. Splenektomi
mungkin dibutuhkan untuk menurunkan kebutuhan darah. Ini ditunda sampai pasien
berumur di atas 6 tahun karena resiko infeksi.
f.
Terapi endokrin diberikan baik sebagai
pengganti ataupun untuk merangsang hipofise jika pubertas terlambat.
g. Pada
sedikit kasus transplantsi sumsum tulang telah dilaksanakan pada umur 1 atau 2
tahun dari saudara kandung dengan HlA cocok (HlA – Matched Sibling). Pada saat
ini keberhasilan hanya mencapai 30% kasus.
J. KOMPLIKASI
Akibat
anemia yang berat dan lama, sering terjadi gagal jantung. Transfusi darah yang
berulang-ulang dari proses hemolisis menyebabkan kadar besi dalam darah tinggi,
sehingga tertimbun dalam berbagai jaringan tubuh seperti hepar, limpa, kulit,
jantung dan lain-lain. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan fungsi alat
tersebut (hemokromotosis).Limpa yang besar mudah ruptur akibat trauma yang
ringan, kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan gagal jantung.
BAB
III
TINJAUAN
KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian fisik
a. melakukan
pemeriksaan fisik
b. kaji riwayat kesehatan, terutama yang
berkaitan dengan anemia (pucat, lemah, sesak, nafas cepat, hipoksia, nyeri
tulang, dan dada, menurunnya aktivitas, anorexia, epistaksis berlang )
c. Kaji
riwayat penyakit dalam keluarga.
2. Pengkajian umum
a. pertumbuhan yang terlambat
b. anemia kronik
c. kematangan seksual yang tertunda
3. Krisis vaso Occlusive
a. Sakit
yang dirasakan
b. Gejala
yang dirasakan berkaitan denganischemia daerah yang berhubungan:
- Ekstrimitas : kulit tangan dan kaki yang mengelupas disertai rasa sakit yang menjalar.
- Ekstrimitas : kulit tangan dan kaki yang mengelupas disertai rasa sakit yang menjalar.
- Abdomen : terasa sakit
- Cerebrum : troke, gangguan penglihatan.
- Liver : obstruksi, jaundice, koma hepaticum.
- Ginjal : hematuria
c. Efek dari krisis vaso occlusive
adalah:
• Cor : cardiomegali, murmur sistolik.
• Paru – paru : ganguan fungsi paru, mudah terinfeksi.
• Ginjal : Ketidakmampuan memecah senyawa urine, gagal
ginjal.
• Genital : terasa sakit, tegang.
• Liver : hepatomegali, sirosis.
• Mata :Ketidaknormalan lensa yang mengakibatkan gangguan
penglihatan, kadang menyebabkan terganggunya lapisan retina dan dapat
menimbulkan kebutaan.
•
Ekstrimitas : Perubahan tulang – tulang terutama menyebabkan bungkuk, mudah
terjangkit virus Salmonella, Osteomyelitis.
B. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi jaringan b.d
berkurangnya komponen selular yang penting untuk menghantakan oksigen murni ke
sel.
2. Intoleransi aktivitas b.d tidak
seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplay oksigen.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d kurang selera makan.
4. Koping keluarga inefektif b.d dampak
penyakit anak terhadap fungsi keluarga.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi jaringan b.d
berkurangnya komponen seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen murni ke
sel.
Tujuan
:
Menunjukan perfusi adekuat misalnya
tanda vital stabil ; membrane mukosa warna merah muda, pengisisan kapiler baik.
Intervensi
:
1.
Awasi tanda vital, kaji pengisian
kapiler,warna kulit/membrane mukosa,dasar kuku.
2.
Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
3.
Kaji untuk respon verbal melambat,
mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, binggung.
4.
Catat keluhan rasa dingin, pertahankan
suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi
5.
Hindari penggunaan bantalan penghangat
atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer.
6.
Awasi pemeriksaan laboratorium, mis Hb.
7.
Berikan oksigen tambahan sesuai
indikasi
Rasional :
1. Memberikan
informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan
kebutuhan intervensi.
2. Meningkatkan
ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler.
3. Dapat
mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia atau difisiensi
vitamin B12.
4. Vasokonstriksi
menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan klien/kebutuhan rasa hangat harus
seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus
vasodilatasi.
5. Termoreseptor
jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen
6. Mengidentifikasi
defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons terhadap terapi
7. Memaksimalkan
transport oksigen kejaringan
2. Intoleransi aktivitas b.d tidak
seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplay oksigen.
Tujuan :
Menunjukan
penurunan tanda fisiologis intoleransi, misl nadi, pernapasan, dan TD masih
dalam rentang normal.
Intervensi:
1. Kaji kemampuan klien untuk melakukan
tugas/AKS normal, catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan
menyelesaikan tugas.
2. Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya
jalan,kelemahan otot.
3. Berikan lingkungan tenang. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan
gangguan berulang yang tak direncanakan.
4. Ubah posisi klien dengan perlahan dan
pantau terhadap pusing
5. Berikan bantuan dalam
aktivitas/ambulansi bila perlu, memungkinkan klien untuk melakukannya sebanyak
mungkin.
6. Rencanakan kemajuan aktivitas dengan
klien termasuk aktivitas yang klien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas
sesuai toleransi
7. Gunakan teknik penghematan energy,
misalnya mandi dengan duduk.
8. Anjurkan klien untuk menghentikan
aktivitas bila palpitasi, nafas pendek, kelemahan atau pusing terjadi.
Rasional :
1. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan
2. Menunjukan perubahan neurologi karena
difesiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan klien
3. Meningkatkan istirahat untuk menurunkan
kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru
4. Hipotensi postural atau hipoksia
serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan resiko cidera
5. Membantu bila perlu, harga diri di
tinggikan bila klien melakukan sesuatu sendiri
6. Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas
sampai normal dan memperbaiki tonus otot /stamina tanpa kelemahan.
7. Mendorong klien melakukan banyak dengan
membatasi penyimpangan energy dan mencegah kelemahan
8. Regangan/stress dapat menimbulkan
dekompenssasi/kegagalan
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d kurang selera makan.
Tujuan :
Menunjukan
peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan nilai laboratorium
normal.
Intervensi :
1. Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan
yang disukai
2. Observasi dan catat masukan makanan
klien
3. Timbang berat badan tiap hari
4. Berikan makan sedikit dan frekuensi
sering.
5. Berikan dan bantu hygiene mulut yang
baik; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang
lembut.
6. Konsul pada ahli gizi
7. Berikan obat sesuai indikasi
Rasional :
1. Menidentifikasi defisiensi, menduga
kemungkinan intervensi
2. Mengawasi masukan kalori atau kualitas
kekurangan kosumsi makanan
3. Mengawasi penurunan berat badan atau
efektivitas intervensi nutrisi
4. Makan sedikit dapat menurunkan
kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster
5. Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan
oral, menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi.
6. Membantu dalam membuat rencana diet
untuk memenuhi kebutuhan individual
7. Kebutuhan pengganti tergantung pada
tipe anemia.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Thalassemia adalah penyakit genetik yang diturunkan secara autosomal resesif
menurut hukum Mendel dari orang tua kepada anak-anaknya. Penyakit thalassemia
meliputi suatu keadaan penyakit dari gelaja klinis yang paling ringan (bentuk
heterozigot) yang disebut thalassemia minor atau thalassemia trait (carrier =
pengemban sifat) hingga yang paling berat (bentuk homozigot) yang disebut
thalassemia mayor. Bentuk heterozigot diturunkan oleh salah satu orang tuanya
yang mengidap penyakit thalassemia, sedangkan bentuk homozigot diturunkan oleh
kedua orang tuanya yang mengidap penyakit thalassemia.
Di
negara-negara yang mempunyai frekuensi gen thalassemia yang tinggi penyakit
tersebut menimbulkan masalah kesehatan masyarakat (Public Health). Pada
umumnya anak dengan penyakit thalassemia mayor tidak akan mencapai usia
produktif bahkan mati di dalam kandungan atau mati setelah lahir seperti pada
thalassemia-α Hb bart’s hydrop fetalis.
Keadaan ini sangat memperihatinkan jika anak-anak yang lahir tidak akan
mencapai usia dewasa, maka generasi berikutnya akan semakin berkurang bahkan
akan lenyap setelah beribu-ribu tahun.
B. SARAN
-
Sebaiknya orang tua senantiasa memperhatikan
kesehatan anaknya
-
Perlu dilakukannya penelusuran pedigree/garis
keturunan untuk mengetahui adanya sifat pembawa thalassemia pada keluarga
penderita thalasemia.
-
Sebaiknya calon pasutri sebelum menikah melakukan
konsultasi untuk menghindari adanya penyakit keturunan, seperti pada thalassemia.
-
Perlu dilakukannya upaya promotif dan preventif
terhadap thalassemia kepada masyarakat luas yang dilakukan oleh pelayan
kesehatan.
Langganan:
Postingan (Atom)
